Motivasi Seorang Ibu


Ini adalah sebuah cerita karanganku sekitar 1 tahun yang lalu, saat aku mengikuti lomba menulis cerita. Karena saya tidak lolos, maka dari itu saya share saja cerita saya kesini. SELAMAT MEMBACA!!! ^^b

            “Ayah, kapan-kapan kita kesana lagi ya!?”
            “Iya, anakku. Apapun permintaanmu akan kuturuti.”
            “YEE!!Makasih Ayah!”
            Ibu dan Kakakku tersenyum.
Hari-hari yang kulewati selama hampir  7 tahun ini adalah hari yang menyenangkan. Selalu ada senyum tersungging di wajah kami. Dalam keadaan apapun, dimanapun, kapanpun, kami selalu menghadapinya dengan senyuman. Tapi entah bermula dari mana, hidupku mulai hancur. Aku merasa telah mati dan hidup kembali dengan keadaan yang sangat berbeda. Hanya ada satu pertanyaan hati yang terlintas padaku waktu itu,”Ada apa ini sebenarnya?”
            Malam hari, sekitar pukul 10 malam, saat itu aku masih belum bisa tidur, aku masih teringat betapa serunya bermain dengan permainan-permainan yang asyik di pameran tadi. Aku ingin mencobanya berkali-kali, berpuluh-puluh kali, sampai aku merasa puas dan lelah. Sambil memeluk gulingku, tiba-tiba saja aku mendengar tangisan ibuku di depan kamarku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tanpa berpikir panjang, aku keluar kamarku dengan suara pelan. Ku mencoba memasang telingaku baik-baik, dan akhirnya sampailah aku di depan pintu kamar orang tuaku.
            “Maafkan aku, sayang. Aku…aku…tak sengaja”
Ibuku terisak sambil memegangi pipinya “Maaf…MAAF KATAMU!!Aku sudah tau lama berita ini, sayang. Tapi kenapa kamu tak mau jujur! Aku sudah bosan kau jadikan permainan” Menghampiri laci dan mengambil sebuah dokumen “Ini, besok kita harus ke KUA, tepat setelah kau harus bersiap pindah dari sini. Dan satu lagi, jangan pernah lagi menemui, atau menyentuh anak-anakku lagi, untuk selamanya!”
            “Tapi..tapi” masih terbata-bata dengan tangan kanan bergetar
            “Kita tidak mungkin bisa bersama, sayang. Aku ingin merasa tenang hidup di dunia ini bersama anak-anakku”
            “Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini, sayang. Kita tidak boleh berpisah”
            “Aku yang merasakannya, dan aku yang menanggungnya. Walaupun dengan taruhan mati”
            Mendengar kata “mati”, tanpa sadar aku meloncat kaget ke arah belakang dan menyenggol vas bunga milik ibukku yang ada di laci dekatku.
            PRAANG!
            Kedua orang tuaku terperanjat kaget dan segera keluar kamar.
            Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyeretku ke belakang dengan cepat.
            “Kakak, kenapa kakak ada disini?”
            “Suuut. Diamlah sebentar!”
            Saat pintu terbuka, aku dan kakakku sudah berada di kamarku. Yang ada hanyalah orang tuaku kebingungan dan mencari-cari siapa yang memecahkan vas bunga tersebut.
            Masih terdiam, aku menghampiri kasurku dan menangis. Kakakku hanya mampu melihatku dengan keprihatinan.
            “Aku tau apa yang kau rasakan, dik..Tapi kau masih belum..”
            “Dan aku juga tau apa yang kau rasakan, kak”Sahutku
            Tiba-tiba ibu membuka pintu kamarku.  Dan kamipun terdiam
            Akulah yang pertama membuka pembicaraan “Kak, Bu, pergilah. Aku ingin sendiri
sekarang” merekapun menurutiku.
            Aku merasakan semua terjadi begitu cepat. Tak ada lagi kenangan indah yang akan terukir lagi di keluarga ini, pikirku. Aku juga berpikir apakah kakakku juga bersedih seperi aku. Aku ingin kejadian ini hanyalah mimpi, mimpi terburuk dalam hidupku.


            Keesokan harinya, semua keluargaku berkumpul di depan rumah, hanya untuk menyaksikan kepergian ayahku, pergi, dan mungkin tak pernah kembali.
            Setelah mengucapkan salam perpisahan dan pergi, tiba-tiba saja ayahku berlari ke arahku dan kakakku.
            “Maafkan ayah, anakku. Ayah tak bisa mendidikmu dengan baik. Jagalah ibumu sebaik mungkin, jika sampai ayah bisa kembali lagi ke sini.”
            Entah kenapa saat itu kami begitu emosi terhadap ayahku, walaupun dalam hati ingin agar dia tidak pergi. Dan terakhir, kecupan yang hangat mendarat di kening kami.
            Ibuku hanya bisa bersedih dengan keadaan seperti ini. Aku dan kakakku yang berselisih umur 4 tahun hanya bisa berdiri terpaku, diam, & menunggu keajaiban datang. Tapi, ayahku tetap saja pergi tanpa menoleh kembali menatapku. Dan mungkin kecupan kening itu adalah kenangan indah terakhirku bersama seorang Ayah…


6 tahun kemudian…

            “Bu, aku berangkat!”
            “Gak sarapan dulu, le?”
            “Gak”
            Begitu cepatnya kakakku menghilang di balik pintu
            “Gilang!Gilang!”
            Sunyi. Tak ada jawaban.
            Aku yang duduk berseberangan dengan ibuku di meja makan, melihat ia menitikkan setetes air mata kesedihan. Dan itu sering terjadi bila kami membantah atau melawan ibu kami. Dan baru kali ini aku inginmengungapkan isi hatiku kepada ibu.
            “Ehm…bu..Ibu gak apa-apa kan?”tanyaku ragu-ragu
            Sedikit kaget ibuku mengusapkan air matanya, “eh, Gak apa-apa kok, le..dah berangkat sana, kih. Nanti telat lho”
            “Bu..”
            “Apa, le?’
            “Aku..aku…ehm, aku minta maaf ya, Bu. Kalau aku punya banyak salah ke Ibu.”
            Ibu memandangku dengan padangan heran. Dan mengalihkan pembicaraan.
            “Rendy, hidup ini memang mempunyai banyak pilihan, tetapi bagaimana kita bisa memilih pilihan yang baik untuk kita, walaupun itu tidak nyaman, bukannya memilih pilihan yang nyaman, tapi berakibat buruk bagi kita”
            Ibuku sering membuat kata-kata seperti itu dengan spontan. Hanya untuk memotivasiku, tapi kadang aku tidak tahu makna yang tersirat dalam kata-kata tersebut.
            “Tapi, Bu,...”
            “Sudah..berangkat sekolah dulu sana.Ingat, time isn’t money, but time is anything,selalu hargai waktu yang kamu punyai, walaupun itu hanya sebentar.”
            “Ya udah, Rendy berangkat dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum!”
            Wa’alaikumsalam


            Akhir-akhir ini, aku sering memikirkan masalah-masalah yang dihadapi oleh ibuku. Sampai-sampai, aku tidak berkonsentrasi saat pelajaran di sekolah berlangsung.
            “Rendy, coba kerjakan soal ini di depan!” Kata guruku mengagetkan. Langsung saja aku terbangun dari lamunanku.
            “Rendy, ayo cepat kerjakan!”
            Dengan menyerah terpaksa aku maju dan mengerjakan soal di papan tulis sebisaku. Tiba-tiba saja, keajaiban seperti muncul padaku. Aku merasa gampang menjawab soal-soal di papan tulis mendengar penjelasan dari guruku. Setelah itu, aku kembali ke tempat dudukku. Anehnya, wajah teman-temanku seperti kebingungan melihatku. Trman sebangkupun akhirnya bertanya, “Bagaimana kau dapat mengerjakan soal sesulit itu?” Serontak aku kaget mendengar pertanyaan dari temanku. Dan aku menoleh kembali ke arah papan tulis, “Benarkah aku yang mengerjakan soal itu?”
            TET-TET-TEEET
            Bel tanda istirahat akhirnya berbunyi. Aku masih duduk terdiam dan terus memelototi ke arah papan tulis, “Bagaimana aku bisa mengerjakannya?” , “Apa yang ada di otakku saat itu?” , “Apakah aku sedang di hipnotis?”
            Seseorang memegang pundakku.
            “Rendy, maukah kamu mengikuti lomba Olimpiade tingkat kecamatan yang akan dilaksanakan besok lusa?” Tanya guruku dengan cepat dan sedikit serius
            “Ap..apa Bu!?” dengan kagetnya aku menjawab
            “Iya, kamu maukan mengikuti lomba Olimpiade itu? Aku melihat kau mempunyai, ehm, semacam bakat terpendam, dan masiih sangat terpendam” Guruku meyakinkan.
            “ehm,ee…akan kupikir-pikir dulu, Bu guru”sedikit bimbang aku menjawabnya.
            “Kalau bisa secepatnya, ya. Kita tak punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu.”
            “Ba..baik Bu.” Guruku langsung berbalik dan pergi. Aku masih saja kebingungan. Kenapa masalahnya semakin rumit. Hanya menjawab soal di papa tulis saja malah disuruh ikut lomba. Yah, aku belum pernah berpengalaman mengikuti event-event  seperti itu. Apalagi dalam waktu yang sangat singkat!
            TET-TET-TEET
            Tak terasa bel berbunyi lagi. Akupun tetap duduk diam melamun di kelas sampai pelajaran usai.


            Setelah menceritakan semuanya kepada ibuku, ibuku memberi motivasi lebih untukku agar semangat belajar dan selalu positive thinking. akhirnya aku bersungguh-sungguh ingin mengikuti lomba tersebut. Sampai malam hari  jam 11 aku masih belajar materi apa saja yang akan diperlombakan. Tiba-tiba kudengar sebuah suara entah dari mana. Sedikit merinding, kuberanikan untuk mengikuti asal suara tersebut. Setelah mencari-cari, dengan kagentya aku melihat sesosok bayangan hitam mengendap-endap di tangga rumahku. Aku tak berani menjerit, ataupun berlari. Aku hanya ingin saat itu aku pingsan. Tapi mataku tetap melotot ke arahnya. Sampai kulihat bayangan itu semakin jelas, aku mulai mengetahui siapa dia.
“Kak Gilang?”
“Ren..Rendy!!Kenapa kamu masih belum tidur!?” sambil menyembunyikan sesuatu di balik badannya. Merasa tidak nyaman, akhirnya aku menanyakan apa yang disembunyikan olleh kakakku.
“O..ohh, Ini, ini..ee..”
“Bukankah itu nar..”
            Kakakku membungkam mulutku. Dan akhirnya membawaku ke kamarnya. Dia menceritakan semua yang terjadi sebelum dia kembali ke rumah. Aku merasakan banyak perbedaan yang terjadi pada kakakku, selebihnnya sampai terjerumus ke bahaya narkoba. Akhirnya, ku beranikan diri untuk membuat keadaan lebih tenang dan terlihat santai.
“Kak Gilang sayang gak sama ibu?”
“Sayang dong, Ren..bercanda kamu.”
“Tapi apakah sayang kak Gilang bisa dibuktikan dengan memakai narkoba?”
“Aku..aku hanya…ingin” menunduk Kak Gilang menjawab
“Aku apa, Kak!?” nadaku sedikit memaksa.
“AKU HANYA INGIN MERASAKAN KEBEBASAN, REN! KAMU MASIH BELUM MENGERTI RASANYA KEHILANGAN AYAH SELAMA BERTAHUN-TAHUN! YANG KAU TAU HANYALAH IBU, IBU, DAN IBU!” kata kakakku emosi. Kaget juga aku mendengar perkataan kakakku. Rupanya masih ada rasa sedih yang dirasakan Kak Gilang saat kepergian ayah kami. Dengan tetap bersikap tenang, aku berusaha meyakinkan kakakku.
            “Kak, hidup ini memang mempunyai banyak pilihan, tetapi bagaimana kita bisa memilih pilihan yang baik untuk kita, walaupun itu tidak nyaman, bukannya memilih pilihan yang nyaman, tapi berakibat buruk bagi kita.” Kaget bukan main aku bisa mengucapkan kata-kata itu dengan lancar, begitu juga kakakku. Sejenak kami terdiam. Akhirnya, aku angkat bicara.
“Aku hanya ingin keluarga kita bahagia seperti dulu, Kak. Walaupun tanpa Ayah, kita harus membuktikan bahwa kita dapat berhasil tanpa kehadiran sesosok Ayah. Kau pasti mengerti maksudku kan, Kak Lang?”
“Sudah malam, Ren. Sana, tidur dulu. Jangan sampe’ terlambat ke sekolah.” Kata Kak Gilang mengalihkan pembicaraan.
“Tolong berpikir panjanglah, Kak. Ini untuk masa depanmu…Dan untuk masa depan kita.”
            Selesailah pembicaraan kami.


            Keesokan harinya, terjadi perubahan pada kakakku. Tetapi, yang ini sangat berbeda. Hari ini, Kakakku bisa lebih bangun pagi lebih awal dari sebelumnya, membantu ibuku, dan membangunkanku agar tidak terlambat masuk sekolah.Saat aku menanyakan keanehan kakakku, Kakakku hanya menjawab, “Bagaimanapun asal mulanya, semua pasti akan berakhir dengan baik”


9 tahun kemudian…

            CKIIITT!!!
Aku segera mengerem mobilku dengan cepat. Aku tak tahu kalau tiba-tiba saja ada orang di depan sana. Akhirnya, aku berniat keluar untuk minta maaf kepadanya. Sungguh tak kusangka, aku melihat sosok Ayah melekat di tubuh pemulung itu bersama seorang perempuan yang tak ku kenal.
“Pak, Bu, maaf. Saya tak sengaja hampir menabrak kalian. Sekali lagi maafkan saya”
            “Oh, gak apa-apa, le. Ini juga salah ka…”
Tiba-tiba perkataan pemulung itu berhenti saat wajah kami berhadapan, aku sangat tahu bahwa itu adalah Ayah!
“Ayah..” seruku sedikit ragu-ragu.
Bapak itu akhirnya menoleh kesamping dan berlalu. Tapi aku tak menyerah, aku tetap meyakinkan diriku bahwa itu adalah sosok wajah yang masih kuingat walaupun lama tak bertemu.
“Kau..kau Ayah kan?Ingat, Yah…Aku Rendy, Rendy!” Ku lihat berlinangan air mata telah jatuh dari mata Ayahku.
“Maafkan aku, nak. Aku bukan lagi sosok Ayah yang seperti dulu kau ingat. Aku tak bisa menjadi panutanmu. Kau tak pantas memiliki orang tua sepertiku. Tolong nak, tinggalkan aku sendirian. Pergilah..”
“Nggak, Yah. Kau punya janji kepadaku, apapun permintaanku akan kau turuti Yah..TAPI MANA!!?MANA JANJI AYAH YANG SELAMA INI HILANG!?” tak terasa setitik air mata jatuh di pipiku. Ayah hanya terdiam sambil menangis. Tak ada jawaban darinya.
“Ibu.., ibu telah meninggal 2 tahun yang lalu. Ibu divonis terkena kanker rahim. Aku tak pernah tahu sejak kapan ibu mempunyai penyakit seperti itu,dan Ibu tidak pernah bilang kepadaku.” Aku langsung teringat sesuatu. Ku ambil sesuatu dari mobilku, dan menyerahkannya pada Ayahku, “Ini, surat terakhir yang dapat kau baca dari Ibu.” Ayah dengan cepat membuka surat tersebut.
Untuk Rendy dan Gilangku sayang, dan untuk Ayah tercinta,
Maaf untuk Rendy dan Gilang, Ibu gak bisa menceritakan bahwa Ibu mempunyai penyakit ini. Ibu tak ingin jika kalian terus memikirkan Ibu, dan melupakan masa depan kalian yang begitu cerah menanti. Dan mungkin Ibu salah menulis surat ini, karena surat ini hanya mengundang kesedihan di lubuk hati kalian.
Rendy, kau telah banyak belajar hari ini. Ibu tetap ingin kau menjadi yang terbaik, walau Ibu sudah tiada nanti. Dan tetaplah ingat, time isn’t money, but time is anything, selalu hargai waktu yang kamu punyai, walaupun itu hanya sebentar..
Gilang, Ibu sangat menyukai perubahanmu. Kau mampu berubah dan belajar dari pengalaman. Dan Ibu yakin, kau juga pasti akan mempunyai masa depan yang begitu cerah.
Dan untuk Ayah, jika kau sudah kembali nanti, aku ingin kau sadar dan mengerti, bahwa aku masih sangat mencintaimu. Aku begitu emosi dan melupakan kenangan indah kita bersama. Tapi saat ini, aku ingin kau bisa menjaga anak-anak kita, dan jangan telantarkan wanita yang telah mendampingimu sekarang, ajaklah dia.
Dan kalian semua harus mengerti, keluarga itu tidaklah harus lengkap, yang terpenting adalah bagaimana keluarga itu dapat membuat kenyamanan satu sama lain, disitulah arti keluarga sebenarnya.

Salam hangat dan kecupan,

Terima kasih atas segalanya

Kami terdiam sejenak. Sungguh kagetnya aku melihat tiba-tiba Ayahku bersujud menghadapku, menangis, dan berkata, “Baiklah, anakku. Apapun permintaanmu sekarang, pasti akan kuturuti”
Sungguh iba aku melihat Ayahku bersujud menghadapku. Akhirnya, aku menariknya berdiri, dan tersenyum, “Bagaimanapun asal mulanya, semua pasti akan berakhir dengan baik”
Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluk erat Ayahku. Sudah lama aku tidak merasakan pelukan hangat dari Ayahku. Wanita di samping Ayah hanya bisa tersenyum dan menangis.
“Sekarang, maukah Ayah tinggal bersamaku”
“Gilang,”
            “Dia sudah mempunyai istri dan membeli rumah baru, tapi tenang, rumahnya dekat dengan rumah kita.”
“Kita?” Ayahku mengulangi.
“Iya, aku ingin Ayah bisa kembali menjadi anggota keluarga kami, dan..ehm...” aku menoleh kepada wanita yang sedari tadi menemani Ayah, “Akan kami jadikan sebagai ibu tiri kami”
Begitu tersentuhnya Ayahku sampai-sampai dia memelukku kembali. Sungguh momentyang sangat berharga dan paling indah. Dan semoga ibuku diatas sana juga dapat merasakan kebahagiaan ini…


            Saat makan malam bersama, Ayahku masih saja melamun. Aku dan Kakakku saling berpandangan.
            “Kenapa, Yah? Kangen ya?”
            Ayah hanya tersenyum. Ayah melihat sekeliling, melihat foto keluarga, dan..
            “Piala siapa saja itu?”
            “Ya jelas pialanya Rendy, dong Yah.” Aku hanya tersenyum.
            “Benarkah, Rendy?”
            “Iya, Yah. Piala yang paling kiri itu adalah piala yang paling berharga bagiku. Karena itu adalah asal mula aku mengikuti berbagai lomba, dan itu kupersembahkan untukmu, Ayah.”
            “Aku sangat bangga dengan Ibumu, Nak. Dia mampu membuktikan bahwa dia bisa mendidik anak-anak sendirian, dan selalu dapattersenyum di dunia ini.”
            Sementara itu, wanita yang selalu mendampingi Ayahku hanya terdiam saja, dan merasa malu. Kakakku yang berbicara pertama dengannya.
            “Maukah Ibu menjadi anggota keluarga kami?”
            Dengan terharu, beliau menjawab, “Dengan senang hati, Sayang”
            Akhirnya, kami berpelukan bersama, dan itulah awal keluarga baru kami.
            Dan aku berkata dalam hati, “Aku takkan melupakanmu, Ibu. Dan tunggu kami di yaumul qiyamat nanti..YOU ARE THE BEST MOM IN THE WORLD”



~THE END~

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...